“Salib adalah Kekuatan Allah”
<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
PRA PASKAH III, 15 maret 2009
Bacaan I: Kej. 20:1-17; Mzm.19; Bacaan II: I Kor 1:18-25; Bacaan Injil: Yoh. 2:13-22
Oleh Pdt. SH. Sucahyo, S.Si
PEWARTAAN
BACAAN I
Firman dalam bacaan yang pertama ini sering disebut pula “Dasa Titah”, “Hukum Sepuluh Perkara”, “Hukum Taorat”. Namun terlepas dari sebutannya, hukum ini merupakan piagam perjanjian tentang hubungan manusia dengan ALLAH. Allah sungguh mencintai manusia (lihat ayat 1; “Akulah Tuhan, Allahmu…”) maka sudah selayaknya jika manusia tidak mangro tingal. Manusia wajib membalas cinta agung Allah itu. Karena Dasa Titah diturunkan justru untuk membedakan bangsa pilihan dengan bangsa lain.
Barang siapa menuruti dasa titah tersebut, dialah yang diselamatkan, dialah yang terpilih untuk memiliki hubungan kasih bersama ALLAH dimana kasih itu menjadi dasar bagi penyatuan hidup manusia seluruhnya. Posisi manusia yang berdosa mendapatkan pengampunan dari Allah. Jika demikian manusia diharapkan “taat”, bukan sekedar menuruti perintah. Ada makna pemahaman terhadap hukum itu sendiri yang harus dipertahankan.
BACAAN II
Dalam pengalaman kehidupan, sering terjadi tuntutan-tuntutan semacam ini: “Saya mau percaya kepada Allah, kalau…”, “Aku mau ke gereja, kalau …” Akhirnya, orang hanya bisa percaya kalau hatinya merasa cocok dengan apa yang dikehendakinya. Orang Yahudi menginginkan tanda dan orang Yunani mencari hikmat dalam kehidupan. Dalam hubungan yang demikian; salib tentu saja tidak berarti.
Justru menurut Paulus, salib adalah karya Allah yang istimewa: dimana Allah mampu dan ternyata juga memanfaatkan kelemahan, kegagalan, penderitaan dan kekurangan sebagai jalan keselamatan. Dengan demikian, salib menunjukkan kebijaksanaan Allah yang mengagumkan. Di dalam kelemahan salib menurut sudut pandang manusia ada karya besar penyucian manusia dari belenggu dosa.
BACAAN INJIL
Yesus sungguh marah besar ketika melihat rumah Tuhan dijadikan sebagai tempat penyelewengan. Jual beli yang tidak sesuai dengan harga semestinya, syarat-syarat persembahan yang dibuat-buat demi keuntungan sendiri. Taorat Tuhan sudah diselewengkan!
Kenapa Yesus marah? Hal ini menunjukkan hubungan yang erat antara Yesus dan ALLAH. Nukan kehendak pribadi yang harus dicari, melainkan kehendak ALLAH. Kali ini orang Yahudipun menuntut “tanda” (ayat 18). Tanda yang ditunjukkan oleh Yesus adalah salib. TubuhNyalah yang akan dirobohkan, tetapi akan dibangun kembali setelah 3 hari. Inilah bukti perutusan dari Allah.
REFLEKSI
Sudut pandang Allahlah yang harus menjadi focus kehidupan kita, bukan sudut pandang diri sendiri. Sejak “dasa titah” diturunkan, umat pilihan dituntut untuk mengikuti “sudut pandang Allah”; menjadi bangsa milik Allah, menjadi umat yang diselamatkan oleh Allah. Sayangnya dalam perjalanan jaman yang selalu berganti muncul penyelewengan-penyelewengan seperti yang terjadi di bait Allah (lihat bacaan III); peraturan persembahan kurban (misal:) lebih cenderung pada pemerasan. Hewan kurban yang dibawa harus lolos sensor DPHK (Dewan Pemeriksa Hewan Kurban). Namun DPHK itu sudah kongkalikong dengan para penjual hewan kurban di bait Allah untuk tidak meloloskan setiap hewan yang tidak dibeli dari penjual. Karena kurban dalam tradisi saat itu berkaitan dengan penghapusan dosa, terpaksa para pendatang membeli di bait Allah dan tentu dengan harga lebih tinggi. Melihat hal itu Yesus menjadi marah besar (lihat bacaan Injil). Kenapa terjadi penyelewengan di bait Allah? Karena mereka tidak hidup seturut dengan “sudut pandang Allah”. Mereka lebih cenderung sak senenge dhewe. Maka tuntutan-tuntutan orang Yahudipun sak senenge dhewe, dimana mereka tidak mampu melihat keinginan ALLAH. Hal ini terjadi pula dalam bacaan II. Karya Yesus yang indah itu hanya mampu dirasakan bagi setiap orang yang seturut dengan “sudut pandang Allah”, sehingga memaknai Salib sebagai kekuatan ALLAH.
