“Pohon-pohon Kata”
<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Sudah seminggu aku tak mencuci.
Kenangan pada jemuran, tetesan air pada jemuran…
kenapa kau masukkan gunting kuku itu ke dalam hatiku?
Jemuran itu, seperti sederetan kota yang ditelanjangi, disalib, ditembaki:
“hanya tuhan yang boleh jadi komunis,” katanya, jemuran itu.
Tetesan air seperti tulisan di tanah, merembes ke dalam tanah.
Dan mulutku seperti sebuah halaman dengan tanah yang membaca, pohon-pohon kata, kebuh bahasa.
Manusia yang letih dan tidur di atasnya, dinaungi daun-daun kata jemuran itu.
Sudah seminggu aku tak mencuci.
Pakaian kotor, tubuh yang sendiri menghadapi jurang kenangan.
“hanya tuhan yang boleh jadi komunis,” kata jemuran itu.
Aku melihatnya, pakaian kotor itu,
Sudah di dasar jurang.
Mesin cuci tak bisa mengambilnya.
Tubuhku seperti gumpalan-gumpalan tanah,
Bergelinding ke dasar jurang.
Agar aku bisa melihatmu dari bawah.
Agar aku bisa melihat dari dalam bahasa.
Dari : kumpulan puisi “Teman-teman dari Atap Bahasa”; Afrizal Malna
