“Pohon-pohon Kata”

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>


Sudah seminggu aku tak mencuci.

Kenangan pada jemuran, tetesan air pada jemuran…

kenapa kau masukkan gunting kuku itu ke dalam hatiku?

Jemuran itu, seperti sederetan kota yang ditelanjangi, disalib, ditembaki:

hanya tuhan yang boleh jadi komunis,” katanya, jemuran itu.

Tetesan air seperti tulisan di tanah, merembes ke dalam tanah.

Dan mulutku seperti sebuah halaman dengan tanah yang membaca, pohon-pohon kata, kebuh bahasa.

Manusia yang letih dan tidur di atasnya, dinaungi daun-daun kata jemuran itu.

Sudah seminggu aku tak mencuci.

Pakaian kotor, tubuh yang sendiri menghadapi jurang kenangan.

hanya tuhan yang boleh jadi komunis,” kata jemuran itu.

Aku melihatnya, pakaian kotor itu,

Sudah di dasar jurang.

Mesin cuci tak bisa mengambilnya.

Tubuhku seperti gumpalan-gumpalan tanah,

Bergelinding ke dasar jurang.

Agar aku bisa melihatmu dari bawah.

Agar aku bisa melihat dari dalam bahasa.

Dari : kumpulan puisi “Teman-teman dari Atap Bahasa”; Afrizal Malna

~ oleh shsucahyo pada 31 Maret 2009.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.