“Mati Bagi Kehidupan yang Lain”

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>


PRA PASKAH V, 29 maret 2009

Bacaan I: Yeremia 31:31-34; Mazmur 51:1-12; Bacaan II: Ibrani 5:5-10;

Bacaan Injil: Yohanes 12:20-33

Oleh Pdt. SH. Sucahyo

PEWARTAAN

Bacaan I:

Janji pengampunan dari Allah kepada Israel dan Yehuda dikumandangkan melalui Nabi Yeremia. Perjanjian yang baru ini tidaklah sama dengan sebelumnya, Tuhan berkenan menaruh tauratNya di hati umatNya. Jadi bukan sekedar tertulis dalam 2 loh batu, seperti dalam perjanjian Sinai jaman Musa yang telah banyak diingkari oleh Israel. Kali ini dalam perjanjian yang baru itu “Allah mau menjadi Allah bangsa dan bangsa yang menjadi milik kesayanganNya, Allah tidak akan mengingat dosa manusia”.

Karena pengampunan itu ditandai dengan penanaman Taurat dalam hati, itu berarti pengampunan berlaku bagi siapa yang mau menerima (=mentaati) taurat Tuhan.

Bacaan II:

Yesus Kristus adalah imam agung Perjanjian Baru; yang solider dengan kehidupan manusia. Hal itu dapat dilihat dari kenyataan Yesus Kristus yang rela sengsara dan wafat bagi manusia. Sangat terlihat betapa besar dosa manusia, tetapi sekaligus betapa besar rahmat Tuhan kepada manusia. Tebusan pengampunan itu “begitu mahal”.

Status imam Yesus Kristus: lain daripada yang lain. Jika dalam tradisi Israel Imam dipilih berdasarkan “garis keturunan” LEWI (padahal Yesus keturunan Yehuda), maka Yesus dipilih berdasarkan “garis keturunan” ALLAH. Oleh karenanya Yesus menjalani ketaatan pada BapaNya, hidup sebagai Anak dari BapaNya, dengan mempersembahkan doa dan permohonan dengan tangis dan keluhan kepada Allah Bapa yang sanggup menyelamatkanNya dari maut. Yesus menjadi Sang imam Agung, pengampunan Allah ada bersama dengan karyaNya.

Bacaan Injil

Penderitaan dan kesengsaraan Yesus menjadi jalan kemuliaan; menurut kaca mata Allah. Hal itu terlihat dalam bahasa simbol Yesus: sebagai biji yang harus mati ditanah, untuk menumbuhkan pohon-pohon yang baru. Yesus harus mati agar tumbuh generasi-generasi baru dalam pimpinan kuasa Allah. Inilah Karya mulia itu!. Menunjukkan: janji Allah segera digenapi; pengampunan diberikan kepada umat manusia oleh Allah, Taurat yang disempurnakan dalam hukum kasih ditanamkan di dalam hati, setiap orang yang menanamkannya di hati mereka mendapat pengampunan itu.

REFLEKSI

Manusia sudah tersesat dalam belenggu dosa. Manusia jatuh pada keadaan berdosa dan tidak mampu keluar dari dosa itu dengan kekuatannya sendiri. Butuh pertolongan dari pihak lain. Pihat yang tidak berdosa. Yesus Kristus memberikan jalan keluar badi manusia. Jalan keluar yang sama sekali lain: PENGORBANAN. Untuk memperoleh jalan keselamatan; jalan yang membawa kita keluar dari dosa; kita harus mengikut Yesus dengan memanggul salib kita sendiri. Kita harus menderita, manum kita dibahagiakan oleh Kristus Tuhan. Itulah mati untuk hidup. Kebenaran tentang hal itu sudah ditunjukkan dalam teladan yang diberikan kepada kita. Dia mengurbankan dan membiarkan hidup dan tubuhNya dikoyak dalam penderitaan dan kematian sebelum kebangkitan mulia dari maut.

Menderita? Mana mau… Penderitaan memanggul salib dan mengikut Yesus dapat diibaratkan penderitaan perempuan yang sedang melahirkan. Saat melahirkan; kesakitan yang teramat sangat itu begitu menyakitkan, tetapi setelah anak itu lahir, kebahagiaan yang begitu besar menutupi penderitaan yang sudah dilaluinya.

Selamat hari Minggu

~ oleh shsucahyo pada 31 Maret 2009.

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.