“Hidup Karena Iman”
<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
PRA PASKAH IV, 22 maret 2009
Bacaan I: Bilangan 21:4-9; Mazmur 107:1-3, 17-22; Bacaan II: Efesus 2:1-10;
Bacaan Injil: Yohanes 3:14-21
Oleh Pdt. SH. Sucahyo
PEWARTAAN
Bacaan I:
Siapa yang mengira bahwa untuk bisa selamat dari gigitan ular tedung itu, umat Israel harus bersedia “memandang” ular tembaga buatan musa? Bukankah sebelumnya Musa pernah marah besar ketika Israel membuat patung lembu emas untuk disembah?
Apa yang dilakukan Israel terhadap ular tembaga dan patung lembu emas; sama sekali berbeda. Terhadap patung lembu emas, sangat jelas Israel melakukan : penyembahan, pemujaan, peng-allahan. Tetapi terhadap ular tembaga, Israel sedang diingatkan kembali bahwa ia mendapatkan penderitaan akibat gigitan ular tedung itu, dan gigitan ular tedung itu adalah akibat dari mereka yang melakukan kesalahan. Artinya ketika Israel memandang ular tembaga buatan Musa, mereka menjadi teringat oleh dosa mereka lalu bertobat. Jadi hanya yang memandang ular tembaga itulah yang terselamatkan.
Bacaan II:
Semuanya adalah anugerah, semuanya adalah kasih karunia dari Allah. Jaminan keselamatan yang kita miliki berasal dari Allah. Allah memberikan peluang bagi kita untuk memiliki keselamatan itu, justru ketika kita harus mau mengerti bahwa kita adalah kelompok orang berdosa yang tidak mampu melepaskan diri dari dosa itu sendiri.
Kita butuh pertolongan dari ALLAH. Sama seperti dalam kisah Israel yang butuh pertolongan dari ALLAH. Maka; kita harus menyambut pertolongan yang sudah disediakan Allah itu untuk kita.
Bacaan Injil
Sama seperti Israel “memandang” ular tembaga untuk mendapatkan keselamatan, demikian juga dengan kita yang harus “memandang” Kristus ditinggikan di kayu salib. Memandang di sini bukan berarti penglihatan mata secara jasmaniah, melainkan sebuah keputusan untuk mengarahkan dan memfokuskan diri pada puncak karya penyelamatan Allah di dalam Salib Kristus. Artinya: Keselamatan itu disediakan untuk kita dari Allah, namun bersediakah kita menanggapi keselamatan itu kembali dengan “memandang” salib Kristus?
REFLEKSI
Memandang Kristus; bukanlah hal mudah! Terkadang mata kita lebih senang mencari kesenangan duniawi, mata kita menjadi berat untuk mengarah pada Salib Tuhan. Coba bayangkan; mana yang akan anda pilih, salib Kristus, atau tumpukan emas disamping kita?
Ketika kita memilih Salib Kristus, sedang secara manusiawi timpukan emas itu begitu menggiurkan, kita sedang melakukan pengorbanan tehadap keinginan duniawi tersebut. Dan hal itu hanya dapat diperoleh jika kita benar-benar memaknai “memandang Kristus”. Memandang Salib yang adalah “karunia” menjadi lebih berharga dari semuanya. Itu berarti kita HIDUP KARENA IMAN.
Selamat Beriman
