“JANGAN MENYELAMATKAN NYAWA”
Bacaan I: Kej. 17:1-16; Mzm. 22:23-31; Bacaan II: Roma 4:13-25; Bacaan Injil: Mark. 8:31-38
8 Maret 2009
Oleh Pdt. SH. Sucahyo, S.Si
PEWARTAAN
BACAAN I
“Benar-benar Bapa orang percaya”, dialah Abraham. Kisah hidupnya tidak sederhana, tidak mendadak instan menjadi bahagia. Abraham harus menunggu waktu begitu lama untuk mendapatkan keinginannya “memiliki anak”. Meskipun Allah memang sudah berjanji bahwa keturunannya akan menjadi bangsa yang besar, bahkan saat janji itu dimulai sejak Abraham keluar dari kota Urkasdim. Namun waktu berjalan begitu lama hingga Abraham berumur 90 tahun, dan anak yang dinantikannya itu tidak kunjung diberikan oleh Tuhan. Bayangkan jika hal ini terjadi pada saudara.
Hal yang menarik adalah ketika Abraham berani “menyangkal diri” dari keinginan manusiawinya. Abraham tetap percaya kepada janji Allah di depan, walau dia sering dipenuhi oleh berbagai pergumulan dan ketidakpastian, rasa kuatir dan bimbang. Sikap iman yang demikianlah; yang diinginkan oleh TUHAN.
BACAAN II
Paulus menekankan bahwa penggenapan janji Tuhan atas Abraham bukan oleh karena Taorat, tetapi berdasarkan Iman Abraham. Dan janji itu tidak hanya berlaku bagi Abraham, tetapi juga bagi kita; umat yang dipersatukan di dalam kasih Kristus dalam wujud nyata pengorbanan Yesus di kayu salib. Akhirnya, kita kembali diarahkan memiliki sikap iman yang dimiliki oleh Abraham.
BACAAN INJIL
Setiap orang yang mengikut Yesus harus menyangkal dirinya, memanggul salib bahkan menyediakan diri untuk kehilangan nyawa sekalipun demi Kristus. Sikap penyangkalan ini lebih memfokus pada apa yang dipikirkan oleh Allah, bukan apa yang dipikirkan oleh manusia. Petrus adalah contoh sikap yang menuruti pemikiran/keinginan manusia, ingin masuk dalam suasana selalu aman, selalu bahagia. Maka ketika Yesus menuju jalan salib (kesengsaraan), Petrus malah menegor Yesus.
Injil kita kali ini memberikan pengajaran bahwa umat harus hidup sesuai dengan apa yang dipikirkan Allah, bersedia menyangkal diri.
REFLEKSI
Proses pengujian untuk menyangkal diri sangat nyata ketika harapan dan keinginan kita tidak terpenuhi dalam waktu yang singkat. Karena umumnya kita menghendaki dalam waktu singkat dapat meraih banyak hal dalam kehidupan ini. Itu sebabnya kita sering tidak sabar saat menantikan janji Allah yang kadang begitu lama perwujudannya. Mengikut Kristus membutuhkan kesabaran dan kerelaan untuk dipimpin ke arah yang Dia kehendaki. Bagi dunia, salib dan penderitaan merupakan cela. Tetapi bagi Allah, salib merupakan wujud dari dimensi kasih Allah yang membenarkan setiap orang percaya. Melalui salib Kristus, Allah menganugerahkan keselamatan agar umat hidup dalam perjanjian dan keselamatan kekal. Ini terjadi karena Kristus mau menyerahkan nyawaNya bagi kita. Jika demikian, bagaimanakah sikap kita: apakah kita lebih memilih mempertahankan nyawa; atau kita mau menyerahkan nyawa kita untuk kemuliaanNya? Selain itu apakah hidup kita terus terarah ke depan yaitu kepada Kristus yang menguasai seluruh kehidupan manusia? Ataukah hidup kita lebih terarah untuk merebut banyak hal agar kita merasa diri lebih kaya dan aman? Tuhan Yesus berkata: “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya” (Mark. 8:35). Bagaimanakah jawaban saudara?
