“Menjadi Pewarta Penyelamatan Allah”
Bacaan I: II Raja-raja 2:1-12; Mazmur: 50:1-6; Bacaan II: II Korintus 4:3-6;
Bacaan Injil: Markus 9:2-9
22 Februari 2009
Oleh Pdt. SH. Sucahyo, S.Si
PEWARTAAN
BACAAN I
Elia dipanggil menghadap Tuhan dengan cara yang begitu indah. Kitab II Para Raja bersaksi bahwa Elia tidak mati, melainkan “naik ke sorga”. Persoalan penting yang perlu kita perhatikan adalah bahwa Elia seorang Nabi Tuhan yang tersohor pada zaman pemerintahan raja Ahab, di mana saat itu Elia dengan seijin Tuhan berdoa agar kemarau panjang mendera Israel. Selain itu Elia juga mengalami pengalaman heroik saat terjadi pembuktian siapakah TUHAN (YHWH) sejati Israel antara para nabi-nabi baal dan Elia sebagai nabi TUHAN (YHWH).
Elia menjadi tokoh central, menjadi tangan panjang Allah menyelamatkan umatNya. Permasalahannya adalah berhentikah kisah penyelamatan Allah seiring dengan naiknya Elia ke sorga? Tentu saja jawabnya TIDAK. Tongkat estafet berpindah tangan, ada Elisa yang dipilih Tuhan menggantikan Elia. Itu artinya; penyelamatan oleh Allah tetap berlangsung, berlanjut. Penyelamatan Allah tidak dapat dibatasi oleh usia manusia. Penyelamatan Allah dilakukan secara : terus menerus, menyeluruh dan berkesinambungan.
BACAAN II
Dalam suratnya di Korintus, Paulus berfokus pada pewartaan lebih lanjut tentang pemberitaan Injil bagi semua orang. Dalam pewartaan yang menyeluruh itu, kita tidak dapat berpaling bahwa terdapat realita seperti yang diungkapkan oleh Paulus tentang 2 macam respon umat terhadap Injil.
1. Menolak Injil. Hal itu terjadi karena pikiran orang telah dibutakan oleh ilah zaman ini (ayt 4), sehingga mereka tidak mampu melihat kemuliaan Kristus dalam pewartaan Injil. Akhirnya; mereka lebih suka memilih hal-hal duniawi (harta, pekerjaan, nafsu) menjadi ilah-ilah modern.
2. Menerima Injil. Terjadi karena pikiran kita terbuka oleh karena sinar kasih Tuhan seperti dikatakan “Dari dalam gelap akan terbit terang!” (ayt 5) dan Yesuslah yang membuat terang itu bercahaya dalam hati kita, sehingga Injil mampu mengubah hidup kita.
BACAAN INJIL
Hampir saja! Petrus terbuai oleh keindahan kebahagiaan sampai-sampai lupa akan tugas-tugasnya di dunia ini. Saking bahagianya, Petrus ingin mendirikan 3 kemah bagi Yesus, Musa dan Elia. Petrus ingin keindahan tetap bersama dirinya, dimana wajah Yesus tampak berkilauan, bahkan bertemu dengan 2 tokoh penting dalam PL. Petrus terbuai dengan penglihatan itu dan ingin menikmatinya terus-menerus.
Satu yang dilupakan oleh Petrus: bahwa keindahan kebahagiaan saat Yesus dimuliakan di atas bukit itu tidak untuk dinikmati sendiri, melainkan harus dinyatakan, diteruskan ke dalam dunia bahwa Yesuslah Mesias yang mewakili 2 tokoh masa Israel pada jaman yang baru ini. Bukannya malah enak-enakan digunung sambil berkemah. Meskipun ayat 9 mengatakan jangan menceritakan… tapi bukan berarti Mesias tidak dinyatakan dalam kehidupan bersama setiap orang.
REFLEKSI
PI (Pemberitaan Injil) harus tetap dikumandangkan! Tidak ada kata “tidak” untuk ber PI. Namun sayang, dunia modern kita saat ini lebih senang mendengarkan khotbah yang bagus, liturgi yang menarik, gedung gereja yang megah, namun pemberitaan Injil dalam pelayanan masyarakat: KURANG.
Bukankah gereja adalah pengikut Tuhan? Yang mau turun bersama manusia lain dan menolong mereka? Tugas ini semestinya kita laksanakan bukan sekedar diajarkan. Bukannya kita malah terbuai dengan keindahan-keindahan yang sudah kita punyai seperti saat ini, tetapi kita malah tertutup oleh keindahan itu, seperti Petrus yang hampir saja lupa akan tugas-tugasnya gara-gara “terlalu bahagia” melihat Tuhan dan Nabi-nabi (lihat bacaan Injil). Ingat! Jangan sampai terjadi keindahan-keindahan yang membahagiakan kita itu malah membutakan diri kita untuk tidak melayani dan mengasihi orang lain dalam hidup bermasyarakat (lihat bacaan II ayt 4). Mengapa? Karena Penyelamatan ALLAH; menyeluruh, terus menerus dan berkesinambungan (perhatikan kembali pewartaan bacaan I).
Selamat berwarta
