“Buah Dari Iman”

“Buah dari Iman”

Bacaan I: II Raja-raja 5:1-14; Mazmur: 30; Bacaan II: I Korintus 9:24-27;;

Bacaan Injil: Markus 1:40-45

15 Februari 2009

Oleh Pdt. SH. Sucahyo, S.Si

 

PEWARTAAN

BACAAN I

Hukum lama (pada jaman Israel), seorang sakit kusta itu pertanda seorang pendosa, seorang yang sedang dihukum oleh Allah. Ia najis, jangan didekati, demikianlah Taurat mengajarkan bahwa orang harus menjauhi orang kusta karena ia pendosa, dengan demikian seorang normal tidak akan tertular penyakit itu, terlebih lagi tertular menjadi pendosa.

 

Demikianlah yang terjadi pada Panglima raja Aram bernama Naaman. Ia terserang sakit kusta, meskipun ia menerima sebuah petunjuk dari seorang gadis Israel (pelayannya) agar disembuhkan oleh nabi Elisa, terkesan untuk mendapatkan kesembuhan itu; semacam “dipersulit”, terdapat syarat syarat yang harus dilakukan yaitu mandi di air yang tidak sehat. Peperangan rohanipun muncul dalam diri Naaman, meski demikian ketika ia beriman dan bersedia memenuhi syaraat tersebut, iman tersebut berbuah sebuah kesembuhan.

 

BACAAN II

Paulus selalu mewartakan sikap yang harus dimiliki orang Kristen dalam menempuh kehidupan (lhat I Korintus 7:35; 8:6; 9:23, 26). Bagi orang Kristen, hidup ini mesti terarah kepada Allah. Sikapnya juga ditentukan oleh arah tersebut. Dalam segala peristiwa, orang Kristen mencoba untuk menemukan jalan memuliakan Allah.

Dalam bahasa yang lain, Seorang petinju yang tidak sembarangan memukul. Paulus ingin menyampaikan semua itu harus dipersiapkan seperti saat kita sedang melakukan perlombaan. Dan memang demikian; sebaiknya kita saling berlomba satu dengan yang lain dalam perjalanan keselamatan kepada Bapa yang di Sorga. Tujuan kita bukan kejuaraan dunia tetapi kehidupan kekal bersama Tuhan, dan itu hanya bisa diperoleh oleh karena buah dari iman.

 

BACAAN INJIL

Bacaan Injil saat ini terasa begitu menarik. Yesus merupakan tokoh yang penuh dialektika. Di satu sisi Ia menampakkan diri sebagai pribadi yang penuh kasih (ayat 40), sisi yang lain menunjukkan sikap tegas dan penuh ancaman (ayat 43). Gereja perdana menegaskan bahwa pribadi Yesus sungguh sebuah misteri yang menimbulkan pertanyaan besar. Untuk bisa menerimaNya, diperlukan kepercayaan = iman yang besar.

 

Secara khusus, gambaran dialektis Yesus kali ini ditampilkan dalam sikap Yesus terhadap Taurat. Ia menyembuhkan orang kusta dengan “melanggar” hokum, Yesus memperlakukan si kusta sebagai pribadi yang harus dihormati melebihi tuntutan Taurat. Dalam hal ini Yesus menegaskan sikap iman yang benar bukan sekadar mengiyakan aturan dan pengajaran, melainkan melibatkan diri dalam kepentingan dan hubungan pribadi. Iman terarah pada pribadi, bukan pada  hokum atau ajaran saja.

 

REFLEKSI

Situasi kondisi jaman Israel masih juga mirip dalam kehidupan modern saat ini. Dalam komunitas kita saat ini, masih saja terdapat system pengkotak-kotakan. Maksudnya; masih saja kita membagi diri dan merasa menjadi orang suci sehingga tidak melayakkan orang lain untuk bergabung dengan geng, kelompok, komunitas kita. Apalagi jikalau orang itu dikenal sebagai orang bermasalah, orang jahat, trouble maker. Wadhuh… rasanya perlakuan kita seperti orang Israel memperlakukan orang-orang kusta. Menganggap orang lain najis.

Beruntunglah kita; karena hokum lama Israel telah diperbaharui oleh Kristus, sehingga kita harus menempatkan Kristus menjadi tujuan utama hidup kita (lihat Bacaan II). Yang dilakukan Kristus adalah membongkar kebiasaan lama Israel itu. Orang kusta tidak lagi disingkirkan justru Tuhan datang untuk memulihkan dan menyembuhkannya. Penyembuhan ini merepakan pewahyuan bahwa Yesus adalah Mesias dan Tuhan yang membebaskan manusia dari segala belenggu dosa dan hukuman. Dialah Kristus yang membuat kehidupan bersama tidak lagi terkotak-kotak, tetapi menjadi satu komunitas yang memiliki satu ikatan: KASIH.

 

Kembali kita diajak untuk memaknai Teladan Kristus minggu ini. Hanya dengan iman kepada Yesuslah kita mampu mendobrak kotakan-kotakan yang sering kita buat sendiri sehingga membatasi perwujudan kasih di dunia ini, Hanya dengan iman kepada Tuhanlah Kasih itu diwujudnyatakan dan sebagai orang Kristen; kita tidak lagi mengkusta-kustakan seorang yang lain.

 

Selamat berbuah!

 

~ oleh shsucahyo pada 14 Februari 2009.

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.