Kuingin Meminumnya

•20 Desember 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kuingin segera, meminumnya…
Penjara kata, bukanlah sorga,
Hanya onggokan debu menyatu; bata…
Kokoh, namun maya
Kuingin segera, memakannya…

Jangan sebut lagi Sorga!
Itu hanyalah gula dalam kata!
Mengira; menuntun kawanan kambing
Pada satu titik kerinduan; keindahan…
Itu hanyalah gula dalam kata,
Tuntunan itu hanya bayang belaka…
Jangan sebut lagi “sorga”
Jangan tertipu untuk menipu…

Dunia ini penipu,
Dunia ini tidak pasti…
Dunia ini menikamkan pisau-pisau kecil

Jangan tertipu untuk menipu,
Kini adalah hari esok,
Menunggu apa lagi?
Jika esok adalah saat ini?
Kuingin segera meminumnya,
Melepas diri dari penjara,
Saat kemanusiawian menjadi dewa
Kuingin segera meminumnya, memakannya
Tanpa memiliki rasa.

“Pohon-pohon Kata”

•31 Maret 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>


Sudah seminggu aku tak mencuci.

Kenangan pada jemuran, tetesan air pada jemuran…

kenapa kau masukkan gunting kuku itu ke dalam hatiku?

Jemuran itu, seperti sederetan kota yang ditelanjangi, disalib, ditembaki:

hanya tuhan yang boleh jadi komunis,” katanya, jemuran itu.

Tetesan air seperti tulisan di tanah, merembes ke dalam tanah.

Dan mulutku seperti sebuah halaman dengan tanah yang membaca, pohon-pohon kata, kebuh bahasa.

Manusia yang letih dan tidur di atasnya, dinaungi daun-daun kata jemuran itu.

Sudah seminggu aku tak mencuci.

Pakaian kotor, tubuh yang sendiri menghadapi jurang kenangan.

hanya tuhan yang boleh jadi komunis,” kata jemuran itu.

Aku melihatnya, pakaian kotor itu,

Sudah di dasar jurang.

Mesin cuci tak bisa mengambilnya.

Tubuhku seperti gumpalan-gumpalan tanah,

Bergelinding ke dasar jurang.

Agar aku bisa melihatmu dari bawah.

Agar aku bisa melihat dari dalam bahasa.

Dari : kumpulan puisi “Teman-teman dari Atap Bahasa”; Afrizal Malna

“Mati Bagi Kehidupan yang Lain”

•31 Maret 2009 • Komentar Dimatikan

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>


PRA PASKAH V, 29 maret 2009

Bacaan I: Yeremia 31:31-34; Mazmur 51:1-12; Bacaan II: Ibrani 5:5-10;

Bacaan Injil: Yohanes 12:20-33

Oleh Pdt. SH. Sucahyo

PEWARTAAN

Bacaan I:

Janji pengampunan dari Allah kepada Israel dan Yehuda dikumandangkan melalui Nabi Yeremia. Perjanjian yang baru ini tidaklah sama dengan sebelumnya, Tuhan berkenan menaruh tauratNya di hati umatNya. Jadi bukan sekedar tertulis dalam 2 loh batu, seperti dalam perjanjian Sinai jaman Musa yang telah banyak diingkari oleh Israel. Kali ini dalam perjanjian yang baru itu “Allah mau menjadi Allah bangsa dan bangsa yang menjadi milik kesayanganNya, Allah tidak akan mengingat dosa manusia”.

Karena pengampunan itu ditandai dengan penanaman Taurat dalam hati, itu berarti pengampunan berlaku bagi siapa yang mau menerima (=mentaati) taurat Tuhan.

Bacaan II:

Yesus Kristus adalah imam agung Perjanjian Baru; yang solider dengan kehidupan manusia. Hal itu dapat dilihat dari kenyataan Yesus Kristus yang rela sengsara dan wafat bagi manusia. Sangat terlihat betapa besar dosa manusia, tetapi sekaligus betapa besar rahmat Tuhan kepada manusia. Tebusan pengampunan itu “begitu mahal”.

Status imam Yesus Kristus: lain daripada yang lain. Jika dalam tradisi Israel Imam dipilih berdasarkan “garis keturunan” LEWI (padahal Yesus keturunan Yehuda), maka Yesus dipilih berdasarkan “garis keturunan” ALLAH. Oleh karenanya Yesus menjalani ketaatan pada BapaNya, hidup sebagai Anak dari BapaNya, dengan mempersembahkan doa dan permohonan dengan tangis dan keluhan kepada Allah Bapa yang sanggup menyelamatkanNya dari maut. Yesus menjadi Sang imam Agung, pengampunan Allah ada bersama dengan karyaNya.

Bacaan Injil

Penderitaan dan kesengsaraan Yesus menjadi jalan kemuliaan; menurut kaca mata Allah. Hal itu terlihat dalam bahasa simbol Yesus: sebagai biji yang harus mati ditanah, untuk menumbuhkan pohon-pohon yang baru. Yesus harus mati agar tumbuh generasi-generasi baru dalam pimpinan kuasa Allah. Inilah Karya mulia itu!. Menunjukkan: janji Allah segera digenapi; pengampunan diberikan kepada umat manusia oleh Allah, Taurat yang disempurnakan dalam hukum kasih ditanamkan di dalam hati, setiap orang yang menanamkannya di hati mereka mendapat pengampunan itu.

REFLEKSI

Manusia sudah tersesat dalam belenggu dosa. Manusia jatuh pada keadaan berdosa dan tidak mampu keluar dari dosa itu dengan kekuatannya sendiri. Butuh pertolongan dari pihak lain. Pihat yang tidak berdosa. Yesus Kristus memberikan jalan keluar badi manusia. Jalan keluar yang sama sekali lain: PENGORBANAN. Untuk memperoleh jalan keselamatan; jalan yang membawa kita keluar dari dosa; kita harus mengikut Yesus dengan memanggul salib kita sendiri. Kita harus menderita, manum kita dibahagiakan oleh Kristus Tuhan. Itulah mati untuk hidup. Kebenaran tentang hal itu sudah ditunjukkan dalam teladan yang diberikan kepada kita. Dia mengurbankan dan membiarkan hidup dan tubuhNya dikoyak dalam penderitaan dan kematian sebelum kebangkitan mulia dari maut.

Menderita? Mana mau… Penderitaan memanggul salib dan mengikut Yesus dapat diibaratkan penderitaan perempuan yang sedang melahirkan. Saat melahirkan; kesakitan yang teramat sangat itu begitu menyakitkan, tetapi setelah anak itu lahir, kebahagiaan yang begitu besar menutupi penderitaan yang sudah dilaluinya.

Selamat hari Minggu

“Hidup Karena Iman”

•31 Maret 2009 • Komentar Dimatikan

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>


PRA PASKAH IV, 22 maret 2009

Bacaan I: Bilangan 21:4-9; Mazmur 107:1-3, 17-22; Bacaan II: Efesus 2:1-10;

Bacaan Injil: Yohanes 3:14-21

Oleh Pdt. SH. Sucahyo

PEWARTAAN

Bacaan I:

Siapa yang mengira bahwa untuk bisa selamat dari gigitan ular tedung itu, umat Israel harus bersedia “memandang” ular tembaga buatan musa? Bukankah sebelumnya Musa pernah marah besar ketika Israel membuat patung lembu emas untuk disembah?

Apa yang dilakukan Israel terhadap ular tembaga dan patung lembu emas; sama sekali berbeda. Terhadap patung lembu emas, sangat jelas Israel melakukan : penyembahan, pemujaan, peng-allahan. Tetapi terhadap ular tembaga, Israel sedang diingatkan kembali bahwa ia mendapatkan penderitaan akibat gigitan ular tedung itu, dan gigitan ular tedung itu adalah akibat dari mereka yang melakukan kesalahan. Artinya ketika Israel memandang ular tembaga buatan Musa, mereka menjadi teringat oleh dosa mereka lalu bertobat. Jadi hanya yang memandang ular tembaga itulah yang terselamatkan.

Bacaan II:

Semuanya adalah anugerah, semuanya adalah kasih karunia dari Allah. Jaminan keselamatan yang kita miliki berasal dari Allah. Allah memberikan peluang bagi kita untuk memiliki keselamatan itu, justru ketika kita harus mau mengerti bahwa kita adalah kelompok orang berdosa yang tidak mampu melepaskan diri dari dosa itu sendiri.

Kita butuh pertolongan dari ALLAH. Sama seperti dalam kisah Israel yang butuh pertolongan dari ALLAH. Maka; kita harus menyambut pertolongan yang sudah disediakan Allah itu untuk kita.

Bacaan Injil

Sama seperti Israel “memandang” ular tembaga untuk mendapatkan keselamatan, demikian juga dengan kita yang harus “memandang” Kristus ditinggikan di kayu salib. Memandang di sini bukan berarti penglihatan mata secara jasmaniah, melainkan sebuah keputusan untuk mengarahkan dan memfokuskan diri pada puncak karya penyelamatan Allah di dalam Salib Kristus. Artinya: Keselamatan itu disediakan untuk kita dari Allah, namun bersediakah kita menanggapi keselamatan itu kembali dengan “memandang” salib Kristus?

REFLEKSI

Memandang Kristus; bukanlah hal mudah! Terkadang mata kita lebih senang mencari kesenangan duniawi, mata kita menjadi berat untuk mengarah pada Salib Tuhan. Coba bayangkan; mana yang akan anda pilih, salib Kristus, atau tumpukan emas disamping kita?

Ketika kita memilih Salib Kristus, sedang secara manusiawi timpukan emas itu begitu menggiurkan, kita sedang melakukan pengorbanan tehadap keinginan duniawi tersebut. Dan hal itu hanya dapat diperoleh jika kita benar-benar memaknai “memandang Kristus”. Memandang Salib yang adalah “karunia” menjadi lebih berharga dari semuanya. Itu berarti kita HIDUP KARENA IMAN.

Selamat Beriman

“Salib adalah Kekuatan Allah”

•31 Maret 2009 • Komentar Dimatikan

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

PRA PASKAH III, 15 maret 2009

Bacaan I: Kej. 20:1-17; Mzm.19; Bacaan II: I Kor 1:18-25; Bacaan Injil: Yoh. 2:13-22

Oleh Pdt. SH. Sucahyo, S.Si

PEWARTAAN

BACAAN I

Firman dalam bacaan yang pertama ini sering disebut pula “Dasa Titah”, “Hukum Sepuluh Perkara”, “Hukum Taorat”. Namun terlepas dari sebutannya, hukum ini merupakan piagam perjanjian tentang hubungan manusia dengan ALLAH. Allah sungguh mencintai manusia (lihat ayat 1; “Akulah Tuhan, Allahmu…”) maka sudah selayaknya jika manusia tidak mangro tingal. Manusia wajib membalas cinta agung Allah itu. Karena Dasa Titah diturunkan justru untuk membedakan bangsa pilihan dengan bangsa lain.

Barang siapa menuruti dasa titah tersebut, dialah yang diselamatkan, dialah yang terpilih untuk memiliki hubungan kasih bersama ALLAH dimana kasih itu menjadi dasar bagi penyatuan hidup manusia seluruhnya. Posisi manusia yang berdosa mendapatkan pengampunan dari Allah. Jika demikian manusia diharapkan “taat”, bukan sekedar menuruti perintah. Ada makna pemahaman terhadap hukum itu sendiri yang harus dipertahankan.

BACAAN II

Dalam pengalaman kehidupan, sering terjadi tuntutan-tuntutan semacam ini: “Saya mau percaya kepada Allah, kalau…”, “Aku mau ke gereja, kalau …” Akhirnya, orang hanya bisa percaya kalau hatinya merasa cocok dengan apa yang dikehendakinya. Orang Yahudi menginginkan tanda dan orang Yunani mencari hikmat dalam kehidupan. Dalam hubungan yang demikian; salib tentu saja tidak berarti.

Justru menurut Paulus, salib adalah karya Allah yang istimewa: dimana Allah mampu dan ternyata juga memanfaatkan kelemahan, kegagalan, penderitaan dan kekurangan sebagai jalan keselamatan. Dengan demikian, salib menunjukkan kebijaksanaan Allah yang mengagumkan. Di dalam kelemahan salib menurut sudut pandang manusia ada karya besar penyucian manusia dari belenggu dosa.

BACAAN INJIL

Yesus sungguh marah besar ketika melihat rumah Tuhan dijadikan sebagai tempat penyelewengan. Jual beli yang tidak sesuai dengan harga semestinya, syarat-syarat persembahan yang dibuat-buat demi keuntungan sendiri. Taorat Tuhan sudah diselewengkan!

Kenapa Yesus marah? Hal ini menunjukkan hubungan yang erat antara Yesus dan ALLAH. Nukan kehendak pribadi yang harus dicari, melainkan kehendak ALLAH. Kali ini orang Yahudipun menuntut “tanda” (ayat 18). Tanda yang ditunjukkan oleh Yesus adalah salib. TubuhNyalah yang akan dirobohkan, tetapi akan dibangun kembali setelah 3 hari. Inilah bukti perutusan dari Allah.

REFLEKSI

Sudut pandang Allahlah yang harus menjadi focus kehidupan kita, bukan sudut pandang diri sendiri. Sejak “dasa titah” diturunkan, umat pilihan dituntut untuk mengikuti “sudut pandang Allah”; menjadi bangsa milik Allah, menjadi umat yang diselamatkan oleh Allah. Sayangnya dalam perjalanan jaman yang selalu berganti muncul penyelewengan-penyelewengan seperti yang terjadi di bait Allah (lihat bacaan III); peraturan persembahan kurban (misal:) lebih cenderung pada pemerasan. Hewan kurban yang dibawa harus lolos sensor DPHK (Dewan Pemeriksa Hewan Kurban). Namun DPHK itu sudah kongkalikong dengan para penjual hewan kurban di bait Allah untuk tidak meloloskan setiap hewan yang tidak dibeli dari penjual. Karena kurban dalam tradisi saat itu berkaitan dengan penghapusan dosa, terpaksa para pendatang membeli di bait Allah dan tentu dengan harga lebih tinggi. Melihat hal itu Yesus menjadi marah besar (lihat bacaan Injil). Kenapa terjadi penyelewengan di bait Allah? Karena mereka tidak hidup seturut dengan “sudut pandang Allah”. Mereka lebih cenderung sak senenge dhewe. Maka tuntutan-tuntutan orang Yahudipun sak senenge dhewe, dimana mereka tidak mampu melihat keinginan ALLAH. Hal ini terjadi pula dalam bacaan II. Karya Yesus yang indah itu hanya mampu dirasakan bagi setiap orang yang seturut dengan “sudut pandang Allah”, sehingga memaknai Salib sebagai kekuatan ALLAH.

“JANGAN MENYELAMATKAN NYAWA”

•12 Maret 2009 • Komentar Dimatikan

Bacaan I: Kej. 17:1-16; Mzm. 22:23-31; Bacaan II: Roma 4:13-25; Bacaan Injil: Mark. 8:31-38

8 Maret 2009

Oleh Pdt. SH. Sucahyo, S.Si

PEWARTAAN

BACAAN I

“Benar-benar Bapa orang percaya”, dialah Abraham. Kisah hidupnya tidak sederhana, tidak mendadak instan menjadi bahagia. Abraham harus menunggu waktu begitu lama untuk mendapatkan keinginannya “memiliki anak”. Meskipun Allah memang sudah berjanji bahwa keturunannya akan menjadi bangsa yang besar, bahkan saat janji itu dimulai sejak Abraham keluar dari kota Urkasdim. Namun waktu berjalan begitu lama hingga Abraham berumur 90 tahun, dan anak yang dinantikannya itu tidak kunjung diberikan oleh Tuhan. Bayangkan jika hal ini terjadi pada saudara.

Hal yang menarik adalah ketika Abraham berani “menyangkal diri” dari keinginan manusiawinya. Abraham tetap percaya kepada janji Allah di depan, walau dia sering dipenuhi oleh berbagai pergumulan dan ketidakpastian, rasa kuatir dan bimbang. Sikap iman yang demikianlah; yang diinginkan oleh TUHAN.

BACAAN II

Paulus menekankan bahwa penggenapan janji Tuhan atas Abraham bukan oleh karena Taorat, tetapi berdasarkan Iman Abraham. Dan janji itu tidak hanya berlaku bagi Abraham, tetapi juga bagi kita; umat yang dipersatukan di dalam kasih Kristus dalam wujud nyata pengorbanan Yesus di kayu salib. Akhirnya, kita kembali diarahkan memiliki sikap iman yang dimiliki oleh Abraham.

BACAAN INJIL

Setiap orang yang mengikut Yesus harus menyangkal dirinya, memanggul salib bahkan menyediakan diri untuk kehilangan nyawa sekalipun demi Kristus. Sikap penyangkalan ini lebih memfokus pada apa yang dipikirkan oleh Allah, bukan apa yang dipikirkan oleh manusia. Petrus adalah contoh sikap yang menuruti pemikiran/keinginan manusia, ingin masuk dalam suasana selalu aman, selalu bahagia. Maka ketika Yesus menuju jalan salib (kesengsaraan), Petrus malah menegor Yesus.

Injil kita kali ini memberikan pengajaran bahwa umat harus hidup sesuai dengan apa yang dipikirkan Allah, bersedia menyangkal diri.

REFLEKSI

Proses pengujian untuk menyangkal diri sangat nyata ketika harapan dan keinginan kita tidak terpenuhi dalam waktu yang singkat. Karena umumnya kita menghendaki dalam waktu singkat dapat meraih banyak hal dalam kehidupan ini. Itu sebabnya kita sering tidak sabar saat menantikan janji Allah yang kadang begitu lama perwujudannya.  Mengikut Kristus membutuhkan kesabaran dan kerelaan untuk dipimpin ke arah yang Dia kehendaki. Bagi dunia, salib dan penderitaan merupakan cela. Tetapi bagi Allah, salib merupakan wujud dari dimensi kasih Allah yang membenarkan setiap orang percaya. Melalui salib Kristus, Allah menganugerahkan keselamatan agar umat hidup dalam perjanjian dan keselamatan kekal. Ini terjadi karena Kristus mau menyerahkan nyawaNya bagi kita. Jika demikian, bagaimanakah sikap kita: apakah kita lebih memilih mempertahankan nyawa; atau kita mau menyerahkan nyawa kita untuk kemuliaanNya? Selain itu apakah hidup kita terus terarah ke depan yaitu kepada Kristus yang menguasai seluruh kehidupan manusia? Ataukah hidup kita lebih terarah untuk merebut banyak hal agar kita merasa diri lebih kaya dan aman? Tuhan Yesus berkata: “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya” (Mark. 8:35). Bagaimanakah jawaban saudara?

HIDUP DALAM KEBENARAN TUHAN

•12 Maret 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Bacaan I: Kej. 9:8-17; Mzm. 25:1-10; I; Bacaan II: I Petr. 3:18-22Bacaan Injil: Mark. 1:9-15
1 Maret 2009
Oleh Pdt. SH. Sucahyo, S.Si

PEWARTAAN
BACAAN I
Dunia sesudah kejatuhan manusia (dalam dosa) merupakan dunia yang jahat (9:1-7). Kekerasan dan pertumpahan darah seolah-olah menjadi khas dan ciri dasarnya. Ciri ini sangat bertentangan dengan citra manusia sebagai gambar dan rupa Allah mewarnai kehidupan mereka. Tidak mengherankan jika Allah merasa menyesal telah menciptakan dunia ini, dan ingin menghancurkannya (Kej 6:6).

Namun satu hal istimewa terjadi. Terhadap dunia yang jahat itu Allah tidak menarik rahmatNya. Allah tetap mengikat janji dengan orang-orang yang dikasihiNya yakni orang-orang yang baik dimata Allah; orang-orang yang hidup di dalam kebenaran Tuhan. Janji itu menurunkan berkat bagi orang yang dipilih Allah. Janji Allah dengan demikian menjadi jaminan masa depan manusia, manusia boleh dan bisa berjuang dengan jaminan kasih karunia Allah yang mengagumkan.

BACAAN II
Penderitaan dan kesengsaraan tidak disisihkan dari kehidupan orang-orang beriman. Oleh karena itu perlu ditekankan bahwa dalam penderitaan dan kesengsaraan sekalipun, orang tidak boleh putus asa. Dalam situasi tersebut orang tidak perlu berhenti berbuat baik, dengan begitu orang tetap melaksanakan kehendak Allah. Bahkan Kristus yang menderitapun masih mau memberitakan firman dalam dunia maut.

Kuncinya; apapun kondisi kita, bahagia ataupun duka, senang apa sengsara harus tetap setia untuk hidup di dalam kebenaran Allah. Karena janjiNya kekal bagi kita.

BACAAN INJIL
Ada dua hal: pertama: Kisah Yesus dicobai (12-13), kedua: Pewartaan kabar gembira Kristus tentang Kerajaan Allah (14-15)
1. Pencobaan Yesus dipadang gurun ditampilkan sebagai awal perjuangan Yesus menanggapi panggilan dan perutusan Allah. Ia harus berjuang berhadapan dengan iblis yang menjadi penghambat terlaksananya kehendak Allah. Teladan yang diberikan Tuhan adalah bagaimanapun beratnya pencobaan itu, Tuhan tetap setia, tidak terhanyut oleh godaan iblis. Yesus hidup dalam kenaran Allah.
2. “Kerajaan Allah sudah datang” inilah proklamasi karya Yesus. Allah menjadi penguasa di dalam dunia ini segera ditunjukkan, hal itu terbukti dalam banyak peristiwa seperti pengusiran-pengusiran roh jahat, penyembuhan orang sakit, bahkan Yesus membangkitkan orang mati. Tanda bahwa kuasa Allah sudah datang. Tanda bahwa penyelamatan bagi manusia sudah dimulai. Tanda bahwa janji Allah menyelamatkan manusia sudah datang.

REFLEKSI
Dari jaman PL dalam cerita Nuh, hanya orang yang hidup taatlah yang terselamatkan. Dan keselamatan itu bersifat kekal, hingga akhirnya diwujudkan dalam karya Yesus Kristus di kayu Salib. Warta gembira bagi kita adalah bahwa janji Allah akan keselamatan diperuntukkan bagi kita.

Tanggapan atas warta gembira itu ialah bertobat. Bertobat yang dimaksudkan bukan hanya orang yang mengubah arah dan cara berpikir, melainkan terutama bila orang mengambil bagian dalam penyempurnaan hidup bersama Yesus Kristus. Itulah sebabnya tobat dikaitkan dengan iman. Iman berarti keterlibatan penuh pada Allah. Orang Kristen yang terlibat, berarti hidup di dalam kebenaran Allah.

Selamat terlibat.

“Menjadi Pewarta Penyelamatan Allah”

•21 Februari 2009 • Komentar Dimatikan

Bacaan I: II Raja-raja 2:1-12; Mazmur: 50:1-6; Bacaan II: II Korintus 4:3-6;

Bacaan Injil: Markus 9:2-9

22 Februari 2009

Oleh Pdt. SH. Sucahyo, S.Si

 

PEWARTAAN

BACAAN I

Elia dipanggil menghadap Tuhan dengan cara yang begitu indah. Kitab II Para Raja bersaksi bahwa Elia tidak mati, melainkan “naik ke sorga”. Persoalan penting yang perlu kita perhatikan adalah bahwa Elia seorang Nabi Tuhan yang tersohor pada zaman pemerintahan raja Ahab, di mana saat itu Elia dengan seijin Tuhan berdoa agar kemarau panjang mendera Israel. Selain itu Elia juga mengalami pengalaman heroik saat terjadi pembuktian siapakah TUHAN (YHWH) sejati Israel antara para nabi-nabi baal dan Elia sebagai nabi TUHAN (YHWH).

 

Elia menjadi tokoh central, menjadi tangan panjang Allah menyelamatkan umatNya. Permasalahannya adalah berhentikah kisah penyelamatan Allah seiring dengan naiknya Elia ke sorga? Tentu saja jawabnya TIDAK. Tongkat estafet berpindah tangan, ada Elisa yang dipilih Tuhan menggantikan Elia. Itu artinya; penyelamatan oleh Allah tetap berlangsung, berlanjut. Penyelamatan Allah tidak dapat dibatasi oleh usia manusia. Penyelamatan Allah dilakukan secara : terus menerus, menyeluruh dan berkesinambungan.

 

BACAAN II

Dalam suratnya di Korintus, Paulus berfokus pada pewartaan lebih lanjut tentang pemberitaan Injil bagi semua orang. Dalam pewartaan yang menyeluruh itu, kita tidak dapat berpaling bahwa terdapat realita seperti yang diungkapkan oleh Paulus tentang 2 macam respon umat terhadap Injil.

1.      Menolak Injil. Hal itu terjadi karena pikiran orang telah dibutakan oleh ilah zaman ini (ayt 4), sehingga mereka tidak mampu melihat kemuliaan Kristus dalam pewartaan Injil. Akhirnya; mereka lebih suka memilih hal-hal duniawi (harta, pekerjaan, nafsu) menjadi ilah-ilah modern.

2.      Menerima Injil. Terjadi karena pikiran kita terbuka oleh karena sinar kasih Tuhan seperti dikatakan “Dari dalam gelap akan terbit terang!” (ayt 5) dan Yesuslah yang membuat terang itu bercahaya dalam hati kita, sehingga Injil mampu mengubah hidup kita.

 

BACAAN INJIL

Hampir saja! Petrus terbuai oleh keindahan kebahagiaan sampai-sampai lupa akan tugas-tugasnya di dunia ini. Saking bahagianya, Petrus ingin mendirikan 3 kemah bagi Yesus, Musa dan Elia. Petrus ingin keindahan tetap bersama dirinya, dimana wajah Yesus tampak berkilauan, bahkan bertemu dengan 2 tokoh penting dalam PL. Petrus terbuai dengan penglihatan itu dan ingin menikmatinya terus-menerus.

 

Satu yang dilupakan oleh Petrus: bahwa keindahan kebahagiaan saat Yesus dimuliakan di atas bukit itu tidak untuk dinikmati sendiri, melainkan harus dinyatakan, diteruskan ke dalam dunia bahwa Yesuslah Mesias yang mewakili 2 tokoh masa Israel pada jaman yang baru ini. Bukannya malah enak-enakan digunung sambil berkemah. Meskipun ayat 9 mengatakan jangan menceritakan… tapi bukan berarti Mesias tidak dinyatakan dalam kehidupan bersama setiap orang.

 

REFLEKSI

PI (Pemberitaan Injil) harus tetap dikumandangkan! Tidak ada kata tidak untuk ber PI. Namun sayang, dunia modern kita saat ini lebih senang mendengarkan khotbah yang bagus, liturgi yang menarik, gedung gereja yang megah, namun pemberitaan Injil dalam pelayanan masyarakat: KURANG.

Bukankah gereja adalah pengikut Tuhan? Yang mau turun bersama manusia lain dan menolong mereka? Tugas ini semestinya kita laksanakan bukan sekedar diajarkan. Bukannya kita malah terbuai dengan keindahan-keindahan yang sudah kita punyai seperti saat ini, tetapi kita malah tertutup oleh keindahan itu, seperti Petrus yang hampir saja lupa akan tugas-tugasnya gara-gara “terlalu bahagia” melihat Tuhan dan Nabi-nabi (lihat bacaan Injil). Ingat! Jangan sampai terjadi keindahan-keindahan yang membahagiakan kita itu malah membutakan diri kita untuk tidak melayani dan mengasihi orang lain dalam hidup bermasyarakat (lihat bacaan II ayt 4). Mengapa? Karena Penyelamatan ALLAH; menyeluruh, terus menerus dan berkesinambungan (perhatikan kembali pewartaan bacaan I).

 

Selamat berwarta

“Buah Dari Iman”

•14 Februari 2009 • Komentar Dimatikan

“Buah dari Iman”

Bacaan I: II Raja-raja 5:1-14; Mazmur: 30; Bacaan II: I Korintus 9:24-27;;

Bacaan Injil: Markus 1:40-45

15 Februari 2009

Oleh Pdt. SH. Sucahyo, S.Si

 

PEWARTAAN

BACAAN I

Hukum lama (pada jaman Israel), seorang sakit kusta itu pertanda seorang pendosa, seorang yang sedang dihukum oleh Allah. Ia najis, jangan didekati, demikianlah Taurat mengajarkan bahwa orang harus menjauhi orang kusta karena ia pendosa, dengan demikian seorang normal tidak akan tertular penyakit itu, terlebih lagi tertular menjadi pendosa.

 

Demikianlah yang terjadi pada Panglima raja Aram bernama Naaman. Ia terserang sakit kusta, meskipun ia menerima sebuah petunjuk dari seorang gadis Israel (pelayannya) agar disembuhkan oleh nabi Elisa, terkesan untuk mendapatkan kesembuhan itu; semacam “dipersulit”, terdapat syarat syarat yang harus dilakukan yaitu mandi di air yang tidak sehat. Peperangan rohanipun muncul dalam diri Naaman, meski demikian ketika ia beriman dan bersedia memenuhi syaraat tersebut, iman tersebut berbuah sebuah kesembuhan.

 

BACAAN II

Paulus selalu mewartakan sikap yang harus dimiliki orang Kristen dalam menempuh kehidupan (lhat I Korintus 7:35; 8:6; 9:23, 26). Bagi orang Kristen, hidup ini mesti terarah kepada Allah. Sikapnya juga ditentukan oleh arah tersebut. Dalam segala peristiwa, orang Kristen mencoba untuk menemukan jalan memuliakan Allah.

Dalam bahasa yang lain, Seorang petinju yang tidak sembarangan memukul. Paulus ingin menyampaikan semua itu harus dipersiapkan seperti saat kita sedang melakukan perlombaan. Dan memang demikian; sebaiknya kita saling berlomba satu dengan yang lain dalam perjalanan keselamatan kepada Bapa yang di Sorga. Tujuan kita bukan kejuaraan dunia tetapi kehidupan kekal bersama Tuhan, dan itu hanya bisa diperoleh oleh karena buah dari iman.

 

BACAAN INJIL

Bacaan Injil saat ini terasa begitu menarik. Yesus merupakan tokoh yang penuh dialektika. Di satu sisi Ia menampakkan diri sebagai pribadi yang penuh kasih (ayat 40), sisi yang lain menunjukkan sikap tegas dan penuh ancaman (ayat 43). Gereja perdana menegaskan bahwa pribadi Yesus sungguh sebuah misteri yang menimbulkan pertanyaan besar. Untuk bisa menerimaNya, diperlukan kepercayaan = iman yang besar.

 

Secara khusus, gambaran dialektis Yesus kali ini ditampilkan dalam sikap Yesus terhadap Taurat. Ia menyembuhkan orang kusta dengan “melanggar” hokum, Yesus memperlakukan si kusta sebagai pribadi yang harus dihormati melebihi tuntutan Taurat. Dalam hal ini Yesus menegaskan sikap iman yang benar bukan sekadar mengiyakan aturan dan pengajaran, melainkan melibatkan diri dalam kepentingan dan hubungan pribadi. Iman terarah pada pribadi, bukan pada  hokum atau ajaran saja.

 

REFLEKSI

Situasi kondisi jaman Israel masih juga mirip dalam kehidupan modern saat ini. Dalam komunitas kita saat ini, masih saja terdapat system pengkotak-kotakan. Maksudnya; masih saja kita membagi diri dan merasa menjadi orang suci sehingga tidak melayakkan orang lain untuk bergabung dengan geng, kelompok, komunitas kita. Apalagi jikalau orang itu dikenal sebagai orang bermasalah, orang jahat, trouble maker. Wadhuh… rasanya perlakuan kita seperti orang Israel memperlakukan orang-orang kusta. Menganggap orang lain najis.

Beruntunglah kita; karena hokum lama Israel telah diperbaharui oleh Kristus, sehingga kita harus menempatkan Kristus menjadi tujuan utama hidup kita (lihat Bacaan II). Yang dilakukan Kristus adalah membongkar kebiasaan lama Israel itu. Orang kusta tidak lagi disingkirkan justru Tuhan datang untuk memulihkan dan menyembuhkannya. Penyembuhan ini merepakan pewahyuan bahwa Yesus adalah Mesias dan Tuhan yang membebaskan manusia dari segala belenggu dosa dan hukuman. Dialah Kristus yang membuat kehidupan bersama tidak lagi terkotak-kotak, tetapi menjadi satu komunitas yang memiliki satu ikatan: KASIH.

 

Kembali kita diajak untuk memaknai Teladan Kristus minggu ini. Hanya dengan iman kepada Yesuslah kita mampu mendobrak kotakan-kotakan yang sering kita buat sendiri sehingga membatasi perwujudan kasih di dunia ini, Hanya dengan iman kepada Tuhanlah Kasih itu diwujudnyatakan dan sebagai orang Kristen; kita tidak lagi mengkusta-kustakan seorang yang lain.

 

Selamat berbuah!

 

“Pelajaran di malam minggu”

•8 Februari 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

“Tit..tit..tiiiiiiiiiitt…

Tit..tit..tiiiiiiiiiitt… Tit..tit..tiiiiiiiiiitt…”

HPku berdering, males rasanya buat angkat itu telpon, aku masih ngantuk!;

Itu karena dari pagi sampe sore aku bekerja; ya ke kantor lah, patuwen lah, konseling lah, bikin bahan-bahan PA lah, Bidston; sudah biasa begitu. Maka kurasa tidak ada salahnya untuk tidur sejenak. “Tit..tit..tiiiiiit”, aduh, hpku berdering lagi.

“Ya, hallo;” terpaksa kuangkat hpku. “sat disini, gimana?….. Ha? Njenengan di jogja mas?” temenku, orang Kediri datang di Jogja. “Ya begini ini, lagi leyeh-leyeh mas, pripun, ngersake napa? … Ooo, mau nyari laptop to?” Dia mampir ke Jogja setelah ada urusan bisnis di Semarang, dia ingin membelikan laptop buat istrinya yang sedang ulang tahun. “Bisa siih.. tapi belum mandi’e mas, … ya dah, njenengan di mana sekarang? Galeria? Ok kita ketemu di sana.” Weleh… weleh… weleeeh… kok aku bilang gitu ya? Aku kan lagi cape buanget? Wis biarin aja…, secepatnya aku cuci muka, ganti baju, pake parfum sebanyak mungkin lalu tancap gas menuju Gale.

“Mas, kita ke daerah terban aja, di sana ada toko laptop, kita coba lihat-lihat dulu” “Iya dik, sekarang aja kita ke sana.” Kami berangkat menuju ke Terban, sedang motorku ku tinggal di Gale.

Singkat cerita, kami masuk ke toko, wah… banyak pilihan di sana, sayang aku ga punya uang buat beli. “Mbak tolong lihat yang Del Inspiron 1420,” temenku menunjuk pada sebuah laptop berwarna merah. “Gimana dik? Baguskah?” “Bagus mas sudah core 2 duo, ram-nya juga 2 GB, ga tertarik yang Acer mas? Banyak orang pake lhoo?” lalu mbaknya ambil Acer Aspire 2930. “Hmm… bagus juga ya dik, hardisknya lebih mantep: 320 GB, whaduh… yang mana ya?” aku tersenyum melihat temenku tampak bingung pilih yang mana. “Mbak, kami tak di luar sebentar ya, mau mikir-mikir dulu, bingung milih yang mana”, lalu dia mengajakku ke luar, duduk jongkok diemperan pinggir toko, aku tidak mengira orang sekaya dia kok mau duduk dipinggir took, jongkok lagi?

pengemis2Aku tersentak kaget, mendadak di sampingku muncul 2 orang ibu sedang membawa 3 orang anak kecil. “Pak..mas… minta tolong saya diberi uang untuk makan…” wajahnya memelas, tetapi aku sudah hafal dengan wajah-wajah buatan seperti itu di Jogja, bagaimanapun aku orang Jogja. Ku ambil dompet dan ku keluarkan uang Rp.1000 lalu kuberikan. Aneh… ibu-ibu itu tetep saja ga mau pergi, malah ngomong begini: “Ngapunten pak, boleh minta tambah 5000? Ini buat makan kami berlima.” Whe lha dalah… kurang ajar ini pengemis pikirku dalam hati. Dengan berat hati, kubuka dompetku kembali, dan ku keluarkan uang 5 ribuan, tapi mendadak tangan kiri temenku memegang tanganku, menghentikan. “Ibu…, ingkang dikersakaken kados pundi?” temenku bertanya. “nyuwun Rp. 5000 kangge tumbas maem pak.” “lha ibu rumahnya dimana?” “kula saking Wates, mau pergi ke rumah saudara di Janti tapi tersesat sampai di sini.” Hmm… biasa pura-pura tersesat, begitu pikirku. “Lha gimana, apa begini saja, njenengan kepingin makan apa, saya bayari terus saya anter ke Janti?” “wadhuh pak mangke ngrepoti, tidak usah saja”. Wehh… aku makin tidak sabar: ”kalo begitu tak bawa ke kantor polisi saja ya, biar dianter polisi”, aku menimpali sambil menakut-nakuti, tapi ibu-ibu itu diam saja, “Kalo begitu begini saja bu,” temenku kembali berbicara lalu mengambil dompetnya dan mengeluarkan uang 50.000an, katanya kembali: “Ini ada uang 50.000, ibu silahkan pergi membeli makanan, setelah itu uang kembaliannya berikan kembali pada saya, saya tunggu di sini.” Ibu-ibu itu mengangguk, lalu pergi. Temenku ini nyenggol tangan saya: “Dik, kita lihat ya, kalo mereka itu jujur, mereka pasti akan kembali ke sini dan mengembalikan uang itu, tetapi kalo mereka hanya acting belaka, mereka tidak akan kembali.” Hmm, pinter juga dia, pikirku.

Lalu kamipun masuk ke toko itu kembali, temenku sibuk mencari dan memilih laptop untuk istrinya. Lalu akhirnya menentukan pilihan pada DELL INSPIRON warna Hitam. Proses panjangpun dimulai. Pengecekan barang, dari Bios sampe casing, bukan itu saja; pengantrian pembayaran makin menambah lamanya waktu buat kami untuk menunggu.

Ahh… akhirnya, selesai juga. Aku tambah cape. Lalu pulanglah kami. Begitu keluar dari pintu, kami melihat 5 orang sedang jongkok lalu tepat dimana kami tadi sedang duduk jongkok di emperan toko. Mereka berdiri dan menghampiri kami; “Pak ini nasi yang kami beli”, aku melihat 5 bungkus nasi masih terbungkus rapi, belum dimakan. “Kenapa tidak dimakan bu?” temenku bertanya. “Kami menunggu bapak, ini kembaliannya pak.” Aku melihat tangan temenku menerima kembalian Rp. 40.000. Wadhuh… sungguh aku dibuat kaget oleh ibu-ibu itu, Rp. 10.000 untuk 5 bungkus nasi? Nasi apaan itu? dan jantungku semakin terasa bergetar hebat saat kulihat 3 orang anak kecil itu; mereka benar-benar kelaparan. Sungguh aku menyesal, kenapa aku tidak memperhatikan mereka sejak tadi? Kenapa baru sekarang? Kenapa hanya arah pikirku saja yang aku perhatikan? Aku bener-bener egoistis.

miskin“Bu, sekarang nasinya dimakan, trus ibu pulang ke mana?” “Kami punya saudara di Umbulharjo, kami akan jalan ke sana” kini aku benar-benar terbuka, yang kulihat sekarang bukan pengemis lagi, tapi sungguh, mereka adalah orang-orang yang butuh pertolongan. Maafkan aku ya Yesus… karena aku tidak peka, aku berdoa dalam hati. “Saya antar ya bu,” temenku menawarkan jasanya, akupun menganggukan kepalaku sebagai tanda setuju. “Mboten pak, nanti ngrepoti.” Ya, ampun Tuhan, sungguh aku banyak belajar dari mereka ini, mereka tidak mau menjadi beban bagi orang lain, mereka hanya mengambil bagiannya saat mereka benar-benar membutuhkan. Mereka tidak mau memanfaatkan orang lain. “Ya sudah begini saja.” Temenku ini kembali membuka dompetnya, lalu mengambil 1 uang 50.000 lagi ditambah kembalian 40 ribu tadi; “Gunakanlah ini untuk perjalanan ibu beserta anak-anak pulang ke Umbulharjo”. Mendadak mereka berlima menangis bersama-sama sembari menyalami dan menciumi tangan temenku. Hatiku terasa teriris-iris, betapa mereka mensyukuri berkat dari Tuhan. Mereka menerima berkat itu tidak dengan bersungut-sungut, bagi mereka uang Rp. 90.000 adalah besar. Banyak orang memiliki uang berjuta-juta tetapi tidak memiliki rasa syukur pada Tuhan, ah… 5 orang miskin ini ternyata lebih kaya dari mereka yang memiliki banyak uang. “Terima kasih pak, Gusti piyambak ingkang badhe mbales amal panjenengan”. Dengan cara mereka, merekapun mendoakan temenku ini. Lalu merekapun pergi.

Aku berdiri kaku, diam. Betapa indahnya hari ini, aku belajar banyak hal, justru ditengah-tengah kesibukanku, saat aku sungguh-sungguh cape. TUHAN, terima kasih.

Mendadak temenku memanggil, wadhuh… dia suda di seberang jalan dekat mobil yang kami tumpangi. Ternyata aku melamun. “Dik.. dik… kok berdiri saja di situ?” aku menyeberangi jalan, lalu kujabat erat tangan temenku: “Baru tahu, aku sekarang mas, njenengan itu kuliah tidak selesai, orangnya biasa saja; ga pandai-pandai amat, tetapi panjenengan sungguh diberkati TUHAN, perusahaan di Kediri, Kalimantan, bisnis-bisnis di Bandung, Semarang, Surabaya kok bisa jalan semua. Ternyata ini to kuncinya”, “Wah, apa itu dik?” aku menghela napas, kulihat temenku ini tampak penasaran. “Njenengan itu lhoo, tulus melayani orang lain mas, tanpa pamrih, dan Kristus Tuhan melimpahkan berkat melebihi apa yang panjenengan berikan ke orang lain itu.” Dia tersenyum, lalu memegang pundakku; “Aku jadi Kristen memang belum lama dik. Tapi aku melihat Yesus ada bersama dengan kehidupan kita, jika saat ini aku seperti ini, itu adalah milikNya, itu milik TUHAN Yesus dik.”

Ahh.. Ternyata, masih ada orang baik di dunia ini, mau melayani orang lain tanpa pamrih, tidak itung-itungan. Sungguh luar biasa yang Allah perbuat bagi orang-orang seperti itu. Aku tidak lagi menyesal mengangkat hpku, saat aku tidur tadi. Justru saat ini aku bersyukur.

-Sat-

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.