“Tit..tit..tiiiiiiiiiitt…
Tit..tit..tiiiiiiiiiitt… Tit..tit..tiiiiiiiiiitt…”
HPku berdering, males rasanya buat angkat itu telpon, aku masih ngantuk!;
Itu karena dari pagi sampe sore aku bekerja; ya ke kantor lah, patuwen lah, konseling lah, bikin bahan-bahan PA lah, Bidston; sudah biasa begitu. Maka kurasa tidak ada salahnya untuk tidur sejenak. “Tit..tit..tiiiiiit”, aduh, hpku berdering lagi.
“Ya, hallo;” terpaksa kuangkat hpku. “sat disini, gimana?….. Ha? Njenengan di jogja mas?” temenku, orang Kediri datang di Jogja. “Ya begini ini, lagi leyeh-leyeh mas, pripun, ngersake napa? … Ooo, mau nyari laptop to?” Dia mampir ke Jogja setelah ada urusan bisnis di Semarang, dia ingin membelikan laptop buat istrinya yang sedang ulang tahun. “Bisa siih.. tapi belum mandi’e mas, … ya dah, njenengan di mana sekarang? Galeria? Ok kita ketemu di sana.” Weleh… weleh… weleeeh… kok aku bilang gitu ya? Aku kan lagi cape buanget? Wis biarin aja…, secepatnya aku cuci muka, ganti baju, pake parfum sebanyak mungkin lalu tancap gas menuju Gale.
“Mas, kita ke daerah terban aja, di sana ada toko laptop, kita coba lihat-lihat dulu” “Iya dik, sekarang aja kita ke sana.” Kami berangkat menuju ke Terban, sedang motorku ku tinggal di Gale.
Singkat cerita, kami masuk ke toko, wah… banyak pilihan di sana, sayang aku ga punya uang buat beli. “Mbak tolong lihat yang Del Inspiron 1420,” temenku menunjuk pada sebuah laptop berwarna merah. “Gimana dik? Baguskah?” “Bagus mas sudah core 2 duo, ram-nya juga 2 GB, ga tertarik yang Acer mas? Banyak orang pake lhoo?” lalu mbaknya ambil Acer Aspire 2930. “Hmm… bagus juga ya dik, hardisknya lebih mantep: 320 GB, whaduh… yang mana ya?” aku tersenyum melihat temenku tampak bingung pilih yang mana. “Mbak, kami tak di luar sebentar ya, mau mikir-mikir dulu, bingung milih yang mana”, lalu dia mengajakku ke luar, duduk jongkok diemperan pinggir toko, aku tidak mengira orang sekaya dia kok mau duduk dipinggir took, jongkok lagi?
Aku tersentak kaget, mendadak di sampingku muncul 2 orang ibu sedang membawa 3 orang anak kecil. “Pak..mas… minta tolong saya diberi uang untuk makan…” wajahnya memelas, tetapi aku sudah hafal dengan wajah-wajah buatan seperti itu di Jogja, bagaimanapun aku orang Jogja. Ku ambil dompet dan ku keluarkan uang Rp.1000 lalu kuberikan. Aneh… ibu-ibu itu tetep saja ga mau pergi, malah ngomong begini: “Ngapunten pak, boleh minta tambah 5000? Ini buat makan kami berlima.” Whe lha dalah… kurang ajar ini pengemis pikirku dalam hati. Dengan berat hati, kubuka dompetku kembali, dan ku keluarkan uang 5 ribuan, tapi mendadak tangan kiri temenku memegang tanganku, menghentikan. “Ibu…, ingkang dikersakaken kados pundi?” temenku bertanya. “nyuwun Rp. 5000 kangge tumbas maem pak.” “lha ibu rumahnya dimana?” “kula saking Wates, mau pergi ke rumah saudara di Janti tapi tersesat sampai di sini.” Hmm… biasa pura-pura tersesat, begitu pikirku. “Lha gimana, apa begini saja, njenengan kepingin makan apa, saya bayari terus saya anter ke Janti?” “wadhuh pak mangke ngrepoti, tidak usah saja”. Wehh… aku makin tidak sabar: ”kalo begitu tak bawa ke kantor polisi saja ya, biar dianter polisi”, aku menimpali sambil menakut-nakuti, tapi ibu-ibu itu diam saja, “Kalo begitu begini saja bu,” temenku kembali berbicara lalu mengambil dompetnya dan mengeluarkan uang 50.000an, katanya kembali: “Ini ada uang 50.000, ibu silahkan pergi membeli makanan, setelah itu uang kembaliannya berikan kembali pada saya, saya tunggu di sini.” Ibu-ibu itu mengangguk, lalu pergi. Temenku ini nyenggol tangan saya: “Dik, kita lihat ya, kalo mereka itu jujur, mereka pasti akan kembali ke sini dan mengembalikan uang itu, tetapi kalo mereka hanya acting belaka, mereka tidak akan kembali.” Hmm, pinter juga dia, pikirku.
Lalu kamipun masuk ke toko itu kembali, temenku sibuk mencari dan memilih laptop untuk istrinya. Lalu akhirnya menentukan pilihan pada DELL INSPIRON warna Hitam. Proses panjangpun dimulai. Pengecekan barang, dari Bios sampe casing, bukan itu saja; pengantrian pembayaran makin menambah lamanya waktu buat kami untuk menunggu.
Ahh… akhirnya, selesai juga. Aku tambah cape. Lalu pulanglah kami. Begitu keluar dari pintu, kami melihat 5 orang sedang jongkok lalu tepat dimana kami tadi sedang duduk jongkok di emperan toko. Mereka berdiri dan menghampiri kami; “Pak ini nasi yang kami beli”, aku melihat 5 bungkus nasi masih terbungkus rapi, belum dimakan. “Kenapa tidak dimakan bu?” temenku bertanya. “Kami menunggu bapak, ini kembaliannya pak.” Aku melihat tangan temenku menerima kembalian Rp. 40.000. Wadhuh… sungguh aku dibuat kaget oleh ibu-ibu itu, Rp. 10.000 untuk 5 bungkus nasi? Nasi apaan itu? dan jantungku semakin terasa bergetar hebat saat kulihat 3 orang anak kecil itu; mereka benar-benar kelaparan. Sungguh aku menyesal, kenapa aku tidak memperhatikan mereka sejak tadi? Kenapa baru sekarang? Kenapa hanya arah pikirku saja yang aku perhatikan? Aku bener-bener egoistis.
“Bu, sekarang nasinya dimakan, trus ibu pulang ke mana?” “Kami punya saudara di Umbulharjo, kami akan jalan ke sana” kini aku benar-benar terbuka, yang kulihat sekarang bukan pengemis lagi, tapi sungguh, mereka adalah orang-orang yang butuh pertolongan. Maafkan aku ya Yesus… karena aku tidak peka, aku berdoa dalam hati. “Saya antar ya bu,” temenku menawarkan jasanya, akupun menganggukan kepalaku sebagai tanda setuju. “Mboten pak, nanti ngrepoti.” Ya, ampun Tuhan, sungguh aku banyak belajar dari mereka ini, mereka tidak mau menjadi beban bagi orang lain, mereka hanya mengambil bagiannya saat mereka benar-benar membutuhkan. Mereka tidak mau memanfaatkan orang lain. “Ya sudah begini saja.” Temenku ini kembali membuka dompetnya, lalu mengambil 1 uang 50.000 lagi ditambah kembalian 40 ribu tadi; “Gunakanlah ini untuk perjalanan ibu beserta anak-anak pulang ke Umbulharjo”. Mendadak mereka berlima menangis bersama-sama sembari menyalami dan menciumi tangan temenku. Hatiku terasa teriris-iris, betapa mereka mensyukuri berkat dari Tuhan. Mereka menerima berkat itu tidak dengan bersungut-sungut, bagi mereka uang Rp. 90.000 adalah besar. Banyak orang memiliki uang berjuta-juta tetapi tidak memiliki rasa syukur pada Tuhan, ah… 5 orang miskin ini ternyata lebih kaya dari mereka yang memiliki banyak uang. “Terima kasih pak, Gusti piyambak ingkang badhe mbales amal panjenengan”. Dengan cara mereka, merekapun mendoakan temenku ini. Lalu merekapun pergi.
Aku berdiri kaku, diam. Betapa indahnya hari ini, aku belajar banyak hal, justru ditengah-tengah kesibukanku, saat aku sungguh-sungguh cape. TUHAN, terima kasih.
Mendadak temenku memanggil, wadhuh… dia suda di seberang jalan dekat mobil yang kami tumpangi. Ternyata aku melamun. “Dik.. dik… kok berdiri saja di situ?” aku menyeberangi jalan, lalu kujabat erat tangan temenku: “Baru tahu, aku sekarang mas, njenengan itu kuliah tidak selesai, orangnya biasa saja; ga pandai-pandai amat, tetapi panjenengan sungguh diberkati TUHAN, perusahaan di Kediri, Kalimantan, bisnis-bisnis di Bandung, Semarang, Surabaya kok bisa jalan semua. Ternyata ini to kuncinya”, “Wah, apa itu dik?” aku menghela napas, kulihat temenku ini tampak penasaran. “Njenengan itu lhoo, tulus melayani orang lain mas, tanpa pamrih, dan Kristus Tuhan melimpahkan berkat melebihi apa yang panjenengan berikan ke orang lain itu.” Dia tersenyum, lalu memegang pundakku; “Aku jadi Kristen memang belum lama dik. Tapi aku melihat Yesus ada bersama dengan kehidupan kita, jika saat ini aku seperti ini, itu adalah milikNya, itu milik TUHAN Yesus dik.”
Ahh.. Ternyata, masih ada orang baik di dunia ini, mau melayani orang lain tanpa pamrih, tidak itung-itungan. Sungguh luar biasa yang Allah perbuat bagi orang-orang seperti itu. Aku tidak lagi menyesal mengangkat hpku, saat aku tidur tadi. Justru saat ini aku bersyukur.
-Sat-
Ditulis dalam BUAH PERENUNGAN